Ramadhan 2026

Awal Ramadhan 2026 Berbeda, Menag Serukan Umat Islam Tetap Jaga Persatuan dan Ukhuwah

Awal Ramadhan 2026 Berbeda, Menag Serukan Umat Islam Tetap Jaga Persatuan dan Ukhuwah
Awal Ramadhan 2026 Berbeda, Menag Serukan Umat Islam Tetap Jaga Persatuan dan Ukhuwah

JAKARTA - Perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah kembali terjadi di Indonesia pada 2026.

Namun alih-alih menjadi sumber perpecahan, momentum ini justru diminta menjadi penguat persatuan umat Islam. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak masyarakat memandang perbedaan tersebut sebagai wujud harmoni dalam keberagaman.

Dalam suasana penetapan 1 Ramadhan yang dinantikan umat Islam, pemerintah dan sejumlah organisasi masyarakat Islam kembali menggunakan pendekatan masing-masing. Meski hasilnya berbeda, pemerintah menegaskan bahwa perbedaan ini merupakan hal yang telah berulang kali terjadi dan tidak seharusnya menimbulkan perpecahan.

Pengalaman Indonesia Mengelola Perbedaan

Menurut Nasaruddin, bangsa Indonesia telah terbiasa menghadapi perbedaan pandangan, termasuk dalam penentuan awal bulan hijriah. Namun pengalaman tersebut selalu diakhiri dengan tetap terjaganya persatuan nasional.

"Indonesia sudah berpengalaman berbeda, tapi tetap utuh dalam sebuah persatuan yang sangat indah," tutur Nasaruddin dalam jumpa pers sidang isbat 1 Ramadhan 1447 H, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perbedaan bukanlah hal baru. Justru, keberagaman metode dan pendekatan dalam menentukan awal Ramadhan mencerminkan dinamika pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia.

Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin juga menyampaikan harapannya agar hasil sidang isbat yang telah disepakati dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Tanah Air.

Imbauan Menjaga Harmoni Umat

Menyikapi adanya kemungkinan sebagian umat Islam memulai ibadah puasa di hari yang berbeda, Menag mengimbau agar situasi ini tidak dipandang secara negatif. Ia menekankan pentingnya menjaga suasana damai dan saling menghormati.

"Seandainya ada di antara umat Islam yang mungkin akan melakukan hal yang berbeda, sesuai kami mengimbau pada seluruh masyarakat, mari perbedaan tidak menyebabkan berpisah atau dalam arti negatif," kata dia.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa substansi Ramadhan bukan hanya soal tanggal dimulainya puasa, tetapi juga tentang nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

Keputusan Pemerintah Berdasarkan Kriteria MABIMS

Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 2026 Masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah melalui proses sidang isbat dan mempertimbangkan hasil pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia.

Penetapan tersebut merujuk pada kriteria MABIMS yang dipedomani oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Namun, hasil pemantauan menunjukkan bahwa sudut elongasi yang ada masih sangat minim, yakni 0 derajat 56 menit 23 hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. Dengan kondisi tersebut, hilal dinyatakan belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.

"Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026," ujar Nasaruddin.

Keputusan ini diambil melalui mekanisme resmi yang selama ini menjadi pedoman pemerintah dalam menentukan awal bulan hijriah.

Perbedaan dengan Muhammadiyah dan Pendekatan Global

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini sepenuhnya diadopsi organisasi tersebut.

Melalui pendekatan astronomi global, Muhammadiyah menerapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Dengan sistem ini, awal bulan hijriah tidak lagi bergantung pada lokasi geografis masing-masing negara.

Perbedaan metode inilah yang menyebabkan terjadinya selisih satu hari dalam penentuan awal Ramadhan tahun ini. Namun demikian, kedua pendekatan tersebut sama-sama memiliki dasar argumentasi ilmiah dan keagamaan yang kuat.

Dalam konteks ini, pemerintah tidak memosisikan perbedaan sebagai pertentangan, melainkan sebagai bagian dari dinamika ijtihad yang wajar dalam kehidupan beragama.

Persatuan di Atas Perbedaan

Momentum Ramadhan diharapkan tetap menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas umat Islam, terlepas dari perbedaan awal pelaksanaan puasa. Pemerintah menekankan bahwa yang lebih penting adalah menjaga ukhuwah dan semangat kebersamaan.

Ajakan Menag agar umat Islam tidak terpecah oleh perbedaan tanggal menjadi pesan utama dalam menyambut Ramadhan 1447 H. Di tengah keberagaman metode penetapan, persatuan tetap menjadi nilai yang harus dijaga.

Dengan pengalaman panjang Indonesia dalam mengelola perbedaan, diharapkan masyarakat dapat kembali menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi dinamika ini. Ramadhan pun diharapkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan, bukan memperlebar jarak.

Pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan resmi pemerintah, keputusan penetapan 1 Ramadhan telah melalui proses hisab dan rukyat yang sah. Sementara pilihan sebagian umat yang mengikuti metode berbeda juga merupakan bagian dari keyakinan yang dihormati.

Di atas semua itu, semangat persatuan menjadi pesan utama yang terus digaungkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index