Harga Batu Bara Dunia Naik Dua Hari Berturut-turut Terus Menguat

Selasa, 24 Februari 2026 | 13:27:17 WIB
Harga Batu Bara Dunia Naik Dua Hari Berturut-turut Terus Menguat

JAKARTA - Harga batu bara dunia mencatatkan tren menguat dalam dua hari terakhir. 

Berdasarkan data perdagangan ICE Newcastle, kontrak pengiriman bulan depan pada Senin, 23 Februari 2026, ditutup di level US$ 116,5 per ton. 

Angka ini menunjukkan kenaikan 0,26 persen dibandingkan hari sebelumnya, memperlihatkan penguatan terbatas namun konsisten selama dua hari berturut-turut.

Kenaikan ini menjadikan harga batu bara berada di dekat US$ 117 per ton, level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. 

Meski lonjakan persentase tidak terlalu besar, tren positif ini mencerminkan sentimen pasar yang mulai optimis terhadap permintaan energi global, khususnya bahan bakar fosil yang digunakan di sektor pembangkit listrik. Penguatan dua hari ini sekaligus menandai konsolidasi harga setelah beberapa pekan mengalami fluktuasi tipis.

Faktor Pendorong Kenaikan

Kenaikan harga batu bara disebabkan oleh beberapa faktor fundamental. Salah satunya adalah persetujuan pemerintah China untuk menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru sebesar 78 gigawatt sepanjang tahun 2025. Angka ini merupakan kenaikan tahunan paling tinggi dalam satu dekade terakhir, sehingga memicu permintaan batu bara meningkat.

Selain itu, stok batu bara global yang relatif ketat turut mendorong harga naik. Faktor geopolitik dan dinamika suplai dari produsen utama seperti Australia dan Indonesia juga memainkan peran. 

Para analis pasar menilai bahwa sentimen positif ini kemungkinan akan bertahan dalam jangka pendek, terutama jika permintaan listrik dan energi di kawasan Asia tetap tinggi.

Dampak Terhadap Industri dan Pasar Lokal

Kenaikan harga batu bara memberikan efek berantai pada berbagai sektor. Industri pembangkit listrik yang mengandalkan batu bara sebagai bahan bakar utama menghadapi potensi kenaikan biaya operasional. Sementara itu, produsen batu bara domestik bisa memperoleh margin keuntungan lebih tinggi.

Namun, dampak terhadap konsumen akhir, termasuk sektor manufaktur dan rumah tangga, tergolong terbatas karena sebagian besar kontrak energi sudah diatur melalui mekanisme harga tetap jangka menengah. Meski demikian, pelaku pasar tetap memantau pergerakan harga ini karena dapat menjadi indikator volatilitas energi yang mempengaruhi biaya produksi dan inflasi.

Prediksi dan Proyeksi Harga

Para analis memproyeksikan harga batu bara masih akan bergerak di kisaran US$ 115–118 per ton dalam beberapa pekan mendatang. Peningkatan kapasitas PLTU di China dapat memicu permintaan tambahan, sementara pasokan global cenderung stabil dengan produksi yang konsisten.

Strategi perdagangan juga menjadi faktor penentu. Investor di bursa komoditas memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk melakukan lindung nilai (hedging), sehingga memberikan dukungan tambahan bagi stabilitas harga jangka pendek. 

Namun, pergerakan harga tetap sensitif terhadap perubahan kebijakan energi global, kondisi cuaca, serta dinamika ekspor-impor batu bara utama.

Harga batu bara menguat dua hari berturut-turut, menandakan sentimen positif di pasar global. Faktor pendorong utama adalah penambahan kapasitas PLTU di China dan permintaan energi yang meningkat. 

Dampaknya terasa pada industri pembangkit listrik dan produsen batu bara, sementara konsumen akhir relatif stabil. Proyeksi menunjukkan harga tetap terkonsolidasi di kisaran US$ 115–118 per ton, dan investor tetap mengamati dinamika pasar sebagai indikator pergerakan jangka pendek.

Penguatan ini menjadi sinyal bagi pelaku industri energi untuk menyesuaikan strategi pasokan dan investasi, sekaligus menggarisbawahi peran penting batu bara sebagai bahan bakar fosil yang tetap relevan dalam transisi energi global. 

Tren positif harga dua hari berturut-turut dapat menjadi momentum untuk memperkuat perencanaan produksi dan ekspor, sambil tetap memantau potensi risiko volatilitas di pasar internasional.

Terkini