Stok Minyak Goreng Dipastikan Aman dan Stabil Saat Ramadan 2026

Senin, 23 Februari 2026 | 12:23:11 WIB
Stok Minyak Goreng Dipastikan Aman dan Stabil Saat Ramadan 2026

JAKARTA - Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Holding Perkebunan PTPN III melalui subholding PTPN IV PalmCo menegaskan kesiapan stok minyak goreng nasional.

Lonjakan permintaan yang biasanya terjadi setiap tahun diantisipasi sejak awal, mulai dari produksi CPO (Crude Palm Oil) hingga distribusi ritel Minyakita. Strategi ini dirancang untuk menjaga ketersediaan, harga terjangkau, dan transparansi rantai pasok.

Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa pola peningkatan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri sudah menjadi rutinitas tahunan, sehingga perusahaan telah memetakan kebutuhan pasar sejak awal tahun. 

“Kami memahami tren permintaan selalu meningkat jauh sebelum Ramadan. Karena itu, skenario peningkatan produksi sudah dirancang dan dieksekusi sejak awal tahun. Stok bahan baku aman untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujarnya.

Upaya ini tidak hanya menitikberatkan pada jumlah produksi, tetapi juga menjamin keberlanjutan dan keterlacakan produksi dari hulu hingga hilir.

Produksi CPO Naik untuk Mengantisipasi Lonjakan Konsumsi

Data PalmCo menunjukkan bahwa produksi CPO Januari 2026 mencapai lebih dari 200 ribu ton, melampaui target bulanan yang telah ditetapkan. 

Dengan tren konsumsi meningkat, perusahaan menargetkan kenaikan produksi lebih dari 10,5 persen pada Maret–April 2026, sehingga diperkirakan mencapai 225.940 ton CPO pada April.

Langkah ini ditempuh untuk meredam potensi gejolak harga di pasar domestik, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Para pengamat menilai, stabilitas pasokan menjadi faktor kunci agar harga minyak goreng tidak melambung tinggi di saat permintaan meningkat tajam.

Fokus pada peningkatan produksi sejak awal tahun memungkinkan PalmCo menjaga ketersediaan CPO, sehingga pabrikan hilir memiliki cukup bahan baku untuk diproses menjadi minyak goreng siap konsumsi.

Minyakita Jadi Fokus Produksi Hilir

Di hilir, anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Lestari (INL), menyesuaikan strategi produksi dengan memprioritaskan Minyakita, merek minyak goreng bersubsidi pemerintah. Target produksi Minyakita untuk Maret 2026 dipatok 4,2 juta liter, dan diperkirakan naik 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.

Pelaksana Tugas Direktur INL, Darwin Hasibuan, menegaskan bahwa seluruh kapasitas produksi difokuskan pada Minyakita. “Untuk sementara, produksi beberapa merek komersial internal kami ditunda. Seluruh jalur distribusi dan kapasitas produksi kami dedikasikan penuh untuk Minyakita agar pasokan di pasar melimpah,” jelasnya.

Kebijakan ini diambil untuk memastikan keterjangkauan harga di tingkat konsumen, sehingga minyak goreng bersubsidi tetap tersedia luas di pasar menjelang Ramadan.

Keberlanjutan dan Sertifikasi Produksi

PalmCo menegaskan bahwa peningkatan produksi tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan. Dari total 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, sebanyak 67 pabrik (94,36 persen) telah tersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan 68 pabrik (95,77 persen) memiliki sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

Selain sertifikasi, perusahaan memperkuat sistem keterlacakan (traceability) bahan baku. Beberapa unit, seperti PKS Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja, dijadikan percontohan integrasi data kebun dan pabrik. Dengan sistem ini, asal usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri hingga ke sumbernya, memberi jaminan transparansi bagi konsumen.

Menurut Jatmiko, masyarakat berhak mendapatkan kepastian tidak hanya soal harga dan stok, tetapi juga produksi yang lestari dan terlacak.

Strategi Distribusi untuk Menjaga Stok dan Harga

PalmCo memastikan distribusi Minyakita disesuaikan dengan kapasitas produksi dan kebutuhan daerah. Penekanan pada distribusi minyak goreng bersubsidi di seluruh jaringan ritel memungkinkan konsumen menjangkau produk dengan harga terjangkau, bahkan saat permintaan meningkat.

Skenario pengaturan distribusi ini juga memperhitungkan faktor logistik, termasuk ketersediaan kendaraan pengangkut, kapasitas gudang, dan pengawasan rantai pasok. Dengan begitu, lonjakan permintaan menjelang Ramadan tidak menimbulkan kekosongan stok maupun kenaikan harga mendadak di pasar.

Selain fokus produksi, PalmCo juga menyiapkan jalur komunikasi intensif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan, memastikan pasokan minyak goreng bersubsidi mencapai titik distribusi strategis tepat waktu.

Sinergi Hulu-Hilir untuk Kestabilan Harga

Keseluruhan upaya PalmCo menunjukkan strategi sinergi hulu-hilir: mulai dari produksi CPO, pengolahan hilir Minyakita, hingga distribusi ke konsumen akhir. Dengan pendekatan ini, perusahaan diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stok, harga, dan keberlanjutan lingkungan.

Seiring mendekatnya Ramadan, stabilitas harga minyak goreng menjadi kunci perlindungan daya beli masyarakat. 

Langkah PalmCo yang memfokuskan produksi dan distribusi pada Minyakita diharapkan mampu menekan gejolak pasar domestik, sekaligus memastikan masyarakat mendapat pasokan minyak goreng berkualitas dengan harga terjangkau.

Transparansi, sertifikasi keberlanjutan, dan sistem traceability menjadi nilai tambah bagi konsumen yang semakin sadar kualitas dan asal-usul produk, serta menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan publik.

Terkini