Strategi PHE Dukung Swasembada Energi Nasional Melalui Tiga Pilar Utama

Jumat, 20 Februari 2026 | 09:00:46 WIB
Strategi PHE Dukung Swasembada Energi Nasional Melalui Tiga Pilar Utama

JAKARTA - Langkah taktis tengah dipersiapkan oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam menyelaraskan operasional bisnisnya dengan visi besar pemerintah. Sebagai garda terdepan di sektor hulu migas, PHE berkomitmen penuh untuk merealisasikan target swasembada dan ketahanan energi nasional yang tertuang dalam program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Melalui pendekatan yang komprehensif, anak usaha Pertamina ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada aspek keterjangkauan dan keberlanjutan lingkungan guna memastikan kedaulatan energi yang merata di seluruh pelosok negeri.

Sinkronisasi Asta Cita dalam Sektor Hulu Migas

Ketahanan energi nasional kini menjadi prioritas utama yang harus segera diakselerasi. Direktur Manajemen Risiko Pertamina Hulu Energi (PHE), Whisnu Bahriansyah, menegaskan bahwa perusahaan telah menyusun langkah-langkah strategis untuk menerjemahkan visi Presiden Prabowo tersebut ke dalam aksi nyata. Menurut Whisnu, penguatan ketahanan energi ini akan dilakukan secara simultan dari tiga sisi fundamental yang saling berkaitan satu sama lain.

"Bagaimana kami di Pertamina menerjemahkan asta cita ketahanan energi ini adalah kami akan berupaya untuk mempertahankan atau meningkatkan ketahanan energi itu dari tiga sisi," ujar Whisnu dalam forum Energy Corner pada Kamis. Pernyataan ini menegaskan posisi PHE sebagai mesin utama yang menggerakkan ketersediaan sumber daya energi di Indonesia, baik melalui optimalisasi lapangan yang sudah ada maupun pencarian cadangan baru.

Tiga Pilar Utama: Keamanan, Kesetaraan, dan Keberlanjutan

Dalam membedah strategi besar tersebut, Whisnu merinci tiga pilar utama yang menjadi pondasi PHE dalam mendukung swasembada energi. Pilar pertama adalah energy security atau keamanan energi. Fokus utama pada pilar ini adalah menjamin aspek availability (ketersediaan) dan accessibility (aksesibilitas). PHE bertugas memastikan bahwa energi tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga mampu didistribusikan hingga menjangkau wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia.

Pilar kedua adalah energy equity yang menitikberatkan pada aspek affordability atau keterjangkauan harga. Swasembada energi tidak akan memiliki dampak signifikan jika masyarakat tidak mampu mengaksesnya secara ekonomi. Oleh karena itu, efisiensi dalam proses produksi hulu menjadi kunci agar produk energi yang dihasilkan dapat sampai ke tangan masyarakat dengan harga yang tetap kompetitif dan terjangkau oleh berbagai lapisan ekonomi.

Pilar ketiga yang tidak kalah krusial adalah sustainability atau keberlanjutan, yang juga berkaitan dengan acceptability. Dalam menjalankan mandatnya meningkatkan produksi nasional, PHE tetap berkomitmen pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Hal ini mencakup upaya serius dalam menekan emisi karbon dan memperluas portofolio penyediaan energi hijau yang ramah lingkungan. "Nah, kami dari PT Pertamina Hulu Energi melakukan itu. Pertamina Hulu Energi adalah salah satu bagian dari Pertamina yang bergerak di sektor Hulu Migas," tambah Whisnu.

Implementasi Dual Growth Strategy untuk Ekspansi Bisnis

Guna mencapai target-target ambisius tersebut, PHE menerapkan model operasional yang disebut sebagai dual growth strategy. Strategi ganda ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi fosil saat ini dan transisi menuju energi masa depan yang lebih bersih. Strategi pertama adalah memaksimalkan bisnis warisan atau maximizing legacy business.

Dalam kerangka ini, PHE terus berupaya memperkuat basis cadangan migas nasional. Langkah yang diambil meliputi optimalisasi seluruh potensi lapangan migas yang dikelola perusahaan, baik yang berlokasi di dalam negeri maupun aset-aset internasional yang berada di bawah naungan Pertamina Hulu Energi. Upaya peningkatan cadangan ini menjadi kunci vital untuk menahan laju penurunan produksi alami (natural decline) pada sumur-sumur tua.

Inovasi Rendah Karbon dan Eksplorasi Hidrogen Alami

Di sisi lain, strategi kedua PHE adalah membangun bisnis rendah karbon atau building low carbon business. Langkah ini merupakan bentuk adaptasi perusahaan terhadap dinamika global yang menuntut proses produksi yang lebih bersih. Dalam pilar transisi ini, PHE memiliki dua fokus utama yang menjadi prioritas pengembangan teknologi dan investasi.

Fokus pertama adalah implementasi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS). Teknologi ini dirancang untuk menangkap emisi CO2 dari kegiatan operasional dan menginjeksikannya kembali ke dalam tanah, sehingga mendukung target dekarbonisasi nasional. Fokus kedua adalah pengembangan energi hijau yang lebih inovatif, salah satunya melalui eksplorasi sumber daya alam baru.

"Fokus utama kami adalah geological hydrogen atau hidrogen alami yang kita bisa jadikan salah satu alternatif bahan bakar yang juga merupakan energi hijau," ungkap Whisnu. Langkah ini menunjukkan bahwa PHE tidak hanya terpaku pada migas konvensional, tetapi juga aktif mencari terobosan baru yang dapat memperkuat struktur energi nasional secara berkelanjutan. Dengan integrasi antara peningkatan produksi migas dan pengembangan energi bersih, PHE optimis dapat membawa Indonesia menuju kemandirian energi yang tangguh dan ramah lingkungan.

Terkini